Jumat, 18 Oktober 2024

Yuk Kita Belajar Sejarah Batik di Indonesia

 

Proses pembuatan batik. Ilustrasi foto: timesindonesia.co.id

Halo anak-anak, sering kali kita temui batik di sekitar kita. Baik dipakai sebagai baju, celana, rok, selendang, motif kertas, atau yang lain. Tapi sudahkah kalian mengenal bagaimana asal mula batik di Indonesia? Mungkin orang tua kita pernah bercerita mungkin juga belum. Nah, kali ini kita akan membahas tentang bagaimana sejarah batik. 

Batik berasal dari kata amba dan titik. Amba berarti menulis, dan titik berarti titik atau ujung yang digunakan untuk membentuk titik. Jika disimpulkan bermakna sebuah kain yang berisi banyak titik. Batik mulai muncul dan digunakan sejak abad ke 17 oleh nenek moyang kita. Pada kala itu batik yang banyak bercorak tanaman dan binatang. Lalu berubah menjadi motof candi dan awan. 

Batik di Indonesia dikenal sejak jaman kerajaan Majapahit lalu pengembangan batik banyak dilakukan saat zaman Kesultanan Mataram dan Kasunan Surakarta. Kegiatan batik tertua berasal dari Ponorogo yang saat itu dinamai Wengker. Teknik batik dikenal sejak 1000 tahun lalu. Dari perkiraan yang ada teknik batik didapatkan dari Mesir Kuno atau Sumeria yang menyebar luas hingga Indonesia. Awalnya batik hanya dilakukan di kalangan keraton saja atau hanya dilakukan oleh raja, ratu, dan para pembesar. Namun berselangnya waktu batik digunakan di kalangan rakyat biasa. Sejak saat itu batik berkembang di seluruh Indonesia. Bahkan menjadi berbagai model dan digemari bangsa Indonesia hingga bangsa asing.


Minggu, 13 Oktober 2024

Yuk Kita Kenal Asal Mula Makanan Gudeg!

 

Gambar Gudeg Makanan Khas Yogyakarta. Ilustrasi foto: Liputan6.com

Halo anak-anak semuanya! pernahkah kalian memakan makanan seperti gambar diatas? Taukah kalian namanya? Yak benar namanya adalah Gudeg. Biasa banyak kita temukan saat kita melewati Daerah Wijilan. Di samping kanan dan kiri jalan kita temukan banyak warung yang menjual menu makanan gudeg. Gudeg ini makanan yang enak loh. Rasanya manis, ada gurih-gurihnya, dan sedikit pedas. Gudek biasanya berisi sayur nangka manis, areh, sayur santan tempe, sambal krecek pedas, dan lauk bisa ayam, telur, atau yang lain berasa manis. Gudeg juga biasanya disertai dengan cabai utuh. 

Pada zaman dahulu kala Alas Mentaok ditumbuhi dengan banyak pohon nangka. Lalu saat pembangunan Keraton, warga membabat Alas Mentaok. Karena saat itu tidak ada makanan yang berjumlah banyak warga merebus buah nangka muda dalam kuah santan menggunakan panci logam besar dan diaduk menggunakan kayu. Proses ini dalam bahasa jawa disebut dengan "hangudeg" bahasa Indonesianya berarti mengaduk. 

Seperti itulah kisah singkat asal mula makanan Gudeg, sekarang makanan gudeg menjadi makanan khas dari Yogyakarta dan digemari oleh banyak warga lokal maupun wisatawan. Kalau ada yang belum pernah mencoba, silahkan mencicipi Gudeg. Sekarang Gudeg juga tersedia dalam kemasan kotak, besek, kendi, dan kaleng

Minggu, 01 September 2024

Cerita Unik, "Asal Mula Bakpia Pathuk"

 

Foto bakpia. Ilustrasi foto: nagantour.com

Hallo, Anak-anak hebat. Sudah pernahkah kalian memakan makanan ini? anak Jogja pastinya kenal dong ini namanya apa. Iya benar, ini adalah bakpia atau biasa dikenal dengan bakpia patuk. Bakpia patuk saat ini sudah hadir dengan berbagai macam rasa. Ada kacang hijau, coklat, kacang merah, durian, dan berbagai rasa yang lain. Tetapi, tahukah kalian bagaimana asal-usul bakpia? apakah bakpia langsung hadir dalam berbagai macam rasa? Yuk simak ceritanya!

Pada zaman dahulu kala tepatnya sekitar tahun 1940-an hiduplah seseorang berasal dari ras tionghoa di kota Yogyakarta. Seseorang tersebut bernama Kwik Sun Kwok. Kwik Sun Kwok pada saat itu menyewa sebidang tanah di Suryowijayan Mantrijeron Yogyakarta milik seseorang bernama Niti Guritno. Nama bakpia berasal dari bahasa Cina "tau lok pia" yang berarti kue yang berasal dari kacang hijau. Dalam istilah lain juga disebutkan berasal dari bahasa "bak" yang berarti daging dan pia yang berarti kue yang berasal dari tepung. Daging yang digunakan awalnya adalah daging babi, namun karena masyarakat Jogja mayoritas islam maka diganti dengan kacang hijau. Lalu pada tahun 1980-an mulai muncul beberapa pengusaha bakpia di daerah pathuk. Maka dari itu pathuk dijadikan pusat bakpia dan disebut bakpia pathuk. Seiring bertambahnya waktu, semakin banyak yang memesan bakpia dengan rasa lain selain kacang hijau. Maka hingga saat ini bakpia hadir dalam berbagai varian rasa.

Begitulah cerita tentang bakpia anak-anak. Sekarang selain kita bisa menikmati kelezatan bakpia kita juga mengetahui searah bakpia


MENGETAHUI HARI BESAR AGAMA DI INDONESIA

   HARI BESAR AGAMA DI INDONESIA


 1. ISLAM

Agama Islam merupakan agama yang menjadi mayoritas masyarakat di Negara Indonesia. Dalam ajaran Islam kitab suci yang digunakan adalah Al-Qur’an. Islam memiliki beberapa hari besar, diantaranya adalah :

  1. Idul Fitri atau yang lebih kita kenal dengan sebutan lebaran, yang pada tahun 2021 jatuh pada tanggal 13 Mei 2021.
  2. Idul Adha, yang pada tahun 2021 jatuh pada tanggal 20 Juli 2021 dilakukan untuk memperingati peristiwa kurban yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS.
  3. Tahun Baru Hijriyah, yang pada tahun 2021 jatuh pada tanggal 9 Agustus 2021. Perayaan ini dilakukan untuk terus mengingatkan umat Islam akan sejarah peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW.
  4. Isra Mi’Raj, yang pada tahun 2021 jatuh pada tanggal 11 Maret 2021. Perayaan ini dilakukan untuk memperingati perjalanan malam yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.

2. KRISTEN

Agama Kristen merupakan agama yang muncul pertama kali sekitar 2000 tahun yang lalu. Hari besar agama Kristen terdiri dari:
  1. Natal yang merupakan perayaan yang dilakukan untuk memperingati kelahiran Yesus yang jatuh pada tanggal 25 Desember,
  2. Hari Paskah merupakan perayaan yang dilakukan untuk memperingati kebangkitan Yesus.
  3. Pentakosta merupakan perayaan yang dilakukan untuk memperingati pencurahan Roh Kudus yang dilakukan 50 hari setelah hari Paskah.
  4. Kenaikan Isa Almasih perayaan yang dilakukan untuk memperingati kenaikan Yesus yang dilakukan 40 hari setelah hari Paskah.
  5. Wafat Isa Almasih perayaan yang dilakukan untuk memperingati kematian Yesus yang dilakukan 3 hari setelah Paskah.

3. KATOLIK
Agama Katolik merupakan agama yang pertama kali muncul di kepulauan Maluku dengan adanya kedatangan bangsa Portugis ke Indonesia dengan misi untuk mencari rempah-rempah. Para rakyat Maluku juga menjadi penganut pertama dari Agama Katolik di Indonesia. Hari besar agama Katolik terdiri dari:
  1. Natal sama seperti Kristen Protestan perayaan dilakukan untuk memperingati kelahiran Yesus Kristus pada tanggal 25 Desember.
  2. Hari Raya Santa Perawan Maria merupakan perayaan yang dilakukan untuk memperingati kepercayaan Gereja bahwa Bunda Maria dikandung tanpa noda yang jatuh pada tanggal 8 Desember.
  3. Kenaikan Isa Al Masih merupakan perayaan yang dilakukan untuk memperingati kenaikan Yesus Kristus ke surga yang jatuh pada tepatnya hari ke 40 setelah Hari Paskah.
  4. Trihari Suci Paskah yang terbagi menjadi tiga hari suci yaitu Kamis Putih yang dilakukan untuk memperingati peristiwa Perjamuan Terakhir Yesus dengan muridnya, Jumat Agung yang dilakukan untuk memperingati wafatnya Yesus Kristus di kayu salib, dan hari Paskah untuk memperingati kebangkitan Yesus Kristus.

4. HINDU
Agama Hindu datang pertama kali ke Indonesia melalui jaringan perdagangan yang terbentang dari Cina hingga India diperkirakan terjadi pada sekitar awal abad ke empat. Kemunculan Agama Hindu ditandai dengan berdirinya kerajaan Ktai dan Tarumanegara yang menganut nilai-nilai Hindu. Hari besar Agama Hindu terdiri dari:
  1. Nyepi merupakan perayaan yang dilakukan untuk memperingati tahun Baru Saka yang dilakukan satu tahun sekali.
  2. Kuningan merupakan hari suci yang dirayakan setiap enam bulan sekali yang jatuh tepat setelah sepuluh hari perayaan hari Galungan.
  3. Galungan dirayakan setiap enam bulan sekali sebagai hari suci yang dilakukan sebagai perayaan kemenangan kebajikan melawan kebatilan.

5. BUDDHA
Kedatangan Agama Buddha di Indonesia terjadi pada abad ke lima Masehi, hal tersebut diperkirakan dengan melihat dari peninggalan prasasti-prasasti yang ditemukan. Hari besar Agama Buddha terdiri dari:
  1. Hari Waisak yang dilakukan oleh para pemegang Agama Buddha dalam memperingati kelahiran Buddha.
  2. Hari Magha merupakan perayaan yang dilakukan oleh para penganut Agama Buddha yang dirayakan dalam bentuk upacara keagamaan.
  3. Hari Asadha merupakan perayaan yang dilakukan untuk memperingati pertama kalinya Buddha Gautama mengajarkan Dhamma kepada lima pertapa. 

6. KONGHUCHU
Ajaran Konfusius atau Konfusianisme yang kemudian berubah menjadi Khonghucu seperti yang kita ketahui sekarang pertama kali muncul di Indonesia terjadi pada abad ke 17, dimana salah satu buktinya terdapat bangunan tua di Pontianak yang digunakan sebagai tempat pemujaan bagi para penganut ajaran tersebut. Hari bsar Agama Konghuchu terdiri dari:
  1. Tahun Baru Imlek yang jatuh setiap tanggal satu bulan satu imlek. Dalam melakukan perayaan ini biasanya orang yang lebih muda memberikan salam kepada yang lebih tua.
  2. Cap Go Meh merupakan hari raya yang diperingati dengan melakukan upacaya sembahyang yang jatuh pada tanggal 15 bulan satu imlek sebagai bentuk ucapan terimakasih dan memulai kehidupan baru kepada Tuhan.
  3. Cheng Beng yang jatuh pada tangga 5 April atau bulan ketiga imlek merupakan kegiatan membersihkan makam dan menaka makam yang rusak.
Nah, seperti itulah penjelasan mengenai beragam Agama yang ada di Indonesia seperti Hari Perayaan Besar masing-masing. Keragaman Agama yang di Indonesia bukan menjadi sebuah sumber perpecahan bagi setiap masyarakatnya. Namun, menjadi suatu kekuatan bagi Negara Indonesia karena keberagaman tersebut dan sifat toleransi dari setiap agama.

Senin, 26 Agustus 2024

Keseimbangan Pekerjaan dan Kehidupan Keluarga serta Pengaruhnya pada Pengasuhan Anak Usia Dini dalam Konteks Parenting Kebangsaan

 

Di tengah perubahan sosial dan teknologi yang pesat, isu keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan keluarga telah menjadi perhatian utama bagi banyak orang tua di Indonesia. Hal ini semakin relevan ketika dikaitkan dengan konsep parenting kebangsaan, yaitu pola asuh yang tidak hanya fokus pada perkembangan individu anak, tetapi juga pada pembentukan karakter kebangsaan yang kuat, cinta tanah air, dan rasa tanggung jawab sosial sebagai bagian dari bangsa.

Parenting kebangsaan menekankan peran orang tua dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan sejak dini. Pada anak usia dini, di mana proses pembentukan karakter sedang dalam tahap awal, peran orang tua sangat penting dalam menanamkan nilai-nilai seperti cinta tanah air, gotong royong, toleransi, dan rasa bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia. 

Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan keluarga memengaruhi kemampuan orang tua untuk menerapkan parenting kebangsaan secara efektif. Ketika orang tua mampu menyeimbangkan kedua aspek ini, mereka lebih mampu menyediakan waktu dan energi untuk memperkenalkan dan menerapkan nilai-nilai kebangsaan kepada anak-anak mereka. Keseimbangan pekerjaan ini memberikan pengaruh kepada penerapan parenting kebangsaan di kehidupan keluarga:

  1. Waktu Berkualitas untuk Pendidikan Nilai Kebangsaan: Orang tua yang mampu menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga lebih mungkin memiliki waktu berkualitas bersama anak-anak mereka. Waktu ini bisa dimanfaatkan untuk mengenalkan budaya, sejarah, dan nilai-nilai kebangsaan melalui cerita, permainan tradisional, atau kegiatan keluarga yang melibatkan aspek-aspek kebudayaan Indonesia. Misalnya, orang tua dapat mengajak anak untuk mengenal lagu-lagu nasional, mengenalkan pahlawan nasional, atau mengajarkan nilai gotong royong melalui kegiatan sehari-hari.
  2. Model Perilaku Berbasis Kebangsaan: Anak-anak usia dini cenderung meniru perilaku orang tua mereka. Orang tua yang berhasil menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan keluarga dapat menjadi teladan dalam menunjukkan cinta tanah air dan rasa tanggung jawab sebagai warga negara. Misalnya, orang tua yang secara aktif terlibat dalam kegiatan masyarakat atau yang menunjukkan rasa hormat terhadap perbedaan suku, agama, dan budaya akan mengajarkan anak untuk menghargai keberagaman sebagai bagian dari identitas kebangsaan.
  3. Pengembangan Karakter Melalui Kegiatan Kebersamaan: Keseimbangan yang baik memungkinkan orang tua untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan yang mendukung pengembangan karakter anak. Ini bisa mencakup kegiatan seperti mengikuti upacara bendera, berpartisipasi dalam kegiatan lingkungan, atau bahkan perjalanan keluarga ke tempat-tempat bersejarah di Indonesia. Pengalaman langsung seperti ini sangat efektif dalam menanamkan rasa bangga dan cinta tanah air pada anak.
  4. Penerapan Nilai-nilai Pancasila: Parenting kebangsaan juga terkait erat dengan penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Dengan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan keluarga, orang tua dapat lebih konsisten dalam mengajarkan nilai-nilai seperti keadilan, persatuan, dan ketuhanan. Misalnya, orang tua bisa mengajarkan anak tentang pentingnya saling menghormati dan bekerja sama dalam keluarga, yang mencerminkan nilai-nilai gotong royong dan persatuan.

Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan keluarga memiliki dampak yang signifikan pada pengasuhan anak usia dini, terutama dalam konteks parenting kebangsaan. Dengan menyeimbangkan kedua aspek ini, orang tua dapat lebih efektif dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan, membangun karakter yang kuat, dan mempersiapkan anak-anak untuk menjadi generasi penerus bangsa yang memiliki rasa cinta tanah air yang mendalam. Melalui pendekatan yang seimbang dan penuh kesadaran, orang tua tidak hanya dapat mendukung perkembangan individu anak-anak mereka, tetapi juga berkontribusi pada masa depan bangsa Indonesia yang lebih baik.

Senin, 19 Agustus 2024

Menanam Benih Nasionalisme: Persiapan Anak Usia Dini untuk Indonesia di Masa Depan

 

Anak usia dini merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia dengan lomba balap karung. Ilustrasi foto: tokopedia.com

Menumbuhkan rasa kebangsaan dan jiwa nasionalisme pada anak usia dini merupakan langkah penting untuk mempersiapkan generasi penerus yang cinta tanah air dan siap membangun bangsa. Proses ini tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga orang tua dan lingkungan sekitar. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan nasionalisme pada anak-anak sejak dini:

  1.  Penanaman Nilai-Nilai Pancasila
    Nilai-nilai Pancasila adalah fondasi dari kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Oleh karena itu, penting bagi anak-anak untuk memahami dan menerapkan nilai-nilai ini dalam kehidupan sehari-hari. Cara terbaik untuk mengajarkan Pancasila kepada anak usia dini adalah melalui metode yang menyenangkan, seperti cerita, lagu, dan permainan. Misalnya, mengajarkan gotong royong melalui kegiatan bermain bersama atau menceritakan kisah tentang keadilan melalui dongeng.
  2. Penghargaan terhadap Keberagaman
    Indonesia dikenal dengan kekayaan budaya dan suku yang luar biasa. Sejak dini, anak-anak perlu diajarkan untuk menghargai keberagaman ini. Melalui pendidikan yang menghargai perbedaan suku, agama, dan budaya, anak-anak akan tumbuh menjadi individu yang toleran dan mampu hidup harmonis dalam masyarakat yang beragam. Kegiatan seperti bermain bersama teman dari latar belakang berbeda atau mengenalkan makanan khas dari berbagai daerah dapat menjadi cara yang efektif untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap keberagaman.
  3. Penghargaan terhadap Sejarah dan Simbol-Simbol Kebangsaan
    Memperkenalkan anak-anak pada sejarah perjuangan bangsa dan simbol-simbol kebangsaan seperti bendera Merah Putih, lagu kebangsaan Indonesia Raya, dan pahlawan nasional, adalah cara yang efektif untuk menanamkan rasa cinta tanah air. Mengajak anak-anak mengikuti upacara bendera, mengenalkan mereka pada hari-hari penting nasional, dan menceritakan kisah-kisah pahlawan Indonesia dapat membantu menumbuhkan rasa bangga sebagai warga negara Indonesia.
  4. Pendidikan Karakter dan Moral
    Pendidikan karakter adalah salah satu pilar penting dalam membangun generasi yang berjiwa nasionalisme. Nilai-nilai seperti kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab harus diajarkan sejak dini. Pendidikan karakter ini akan menjadi fondasi bagi anak-anak untuk menjadi warga negara yang baik dan berkontribusi positif bagi masyarakat dan negara. Misalnya, mengajarkan anak untuk menghormati orang lain, menjaga kebersihan lingkungan, dan bersikap jujur dalam segala hal.
  5. Penggunaan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar
    Bahasa Indonesia adalah salah satu identitas nasional yang perlu dihargai dan dijaga. Oleh karena itu, penting untuk mengajarkan anak-anak menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Meskipun anak-anak juga dapat belajar bahasa daerah atau asing, Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa harus diajarkan dengan penuh penghargaan. Melalui penggunaan bahasa yang baik, anak-anak akan merasa lebih dekat dengan bangsa dan budaya Indonesia.
  6. Pendidikan Lingkungan dan Cinta Tanah Air
    Mengenalkan anak pada keindahan alam Indonesia dan pentingnya menjaga lingkungan adalah bagian dari menumbuhkan rasa cinta tanah air. Kegiatan seperti mengajak anak berkunjung ke taman nasional, mengenalkan flora dan fauna khas Indonesia, atau mengajarkan cara menjaga kebersihan lingkungan akan membangun rasa kepedulian terhadap negeri ini. Dengan demikian, anak-anak akan merasa bertanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan kekayaan alam Indonesia.
  7. Pembiasaan Upacara Bendera dan Kegiatan Kenegaraan
    Mengikuti upacara bendera dan kegiatan kenegaraan lainnya adalah cara yang efektif untuk menanamkan rasa hormat dan cinta tanah air. Melalui partisipasi aktif dalam kegiatan ini, anak-anak akan lebih memahami makna dari simbol-simbol kebangsaan dan nilai-nilai nasionalisme. Orang tua dan guru dapat mengajak anak-anak untuk ikut serta dalam upacara bendera atau peringatan hari kemerdekaan agar mereka terbiasa dengan nilai-nilai kebangsaan.
  8. Kegiatan Ekstrakurikuler yang Menguatkan Jiwa Nasionalisme
    Mengikutsertakan anak-anak dalam kegiatan ekstrakurikuler yang mendukung penanaman jiwa nasionalisme juga sangat penting. Kegiatan seperti pramuka, tari tradisional, atau paduan suara yang membawakan lagu-lagu perjuangan dapat membantu anak-anak mengasah keterampilan sambil menanamkan rasa bangga terhadap budaya dan sejarah Indonesia. Kegiatan ini juga memperkuat rasa kebersamaan dan gotong royong, yang merupakan nilai penting dalam kehidupan berbangsa.
  9. Penghargaan terhadap Pahlawan Nasional
    Mengenalkan anak-anak pada tokoh-tokoh pahlawan nasional melalui cara yang menarik, seperti cerita, film, atau kunjungan ke museum, dapat membangun rasa kagum dan bangga terhadap perjuangan yang telah dilakukan oleh para pendahulu. Ini bisa menjadi motivasi bagi mereka untuk ikut serta dalam membangun bangsa. Anak-anak perlu tahu bahwa mereka juga bisa menjadi pahlawan masa depan dengan berkontribusi positif bagi negara.
  10. Pemahaman tentang Hak dan Kewajiban Warga Negara
    Meskipun anak-anak masih sangat muda, pemahaman dasar tentang hak dan kewajiban sebagai warga negara bisa mulai ditanamkan. Misalnya, mereka perlu tahu bahwa mereka berhak mendapatkan pendidikan yang baik dan juga memiliki kewajiban untuk menghormati orang lain serta menjaga kebersihan lingkungan. Pemahaman ini akan membantu anak-anak mengerti peran mereka dalam masyarakat dan pentingnya kontribusi mereka untuk negara.


Dengan berbagai langkah ini, anak-anak usia dini akan lebih siap dan terarah dalam menumbuhkan rasa kebangsaan dan nasionalisme. Dengan demikian, mereka dapat tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya mencintai Indonesia, tetapi juga siap untuk berkontribusi positif bagi kemajuan bangsa. Mempersiapkan anak-anak sejak dini adalah investasi untuk masa depan Indonesia yang lebih baik, berkebangsaan, dan berjiwa nasionalisme.

Minggu, 18 Agustus 2024

Peran Parenting Kebangsaan dalam Mendukung "Suara Anak Indonesia"

Anak mengutarakan pendapatnya. Ilustrasi foto: fimela.com

Dalam konteks pengembangan anak, parenting kebangsaan menjadi aspek penting yang berkaitan erat dengan partisipasi anak dalam isu kebangsaan dan inisiatif seperti "Suara Anak Indonesia." Suara Anak Indonesia merupakan suatu program inovasi yang dikelola oleh Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) yang bertujuan untuk mengumpulkan pandangan dan aspirasi anak-anak dari seluruh Indonesia. Sedangkan Parenting kebangsaan adalah pola asuh yang berfokus pada penanaman nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air sejak dini. Ini melibatkan peran orang tua dalam membimbing anak untuk memahami, menghargai, dan mengamalkan nilai-nilai yang menjadi dasar berdirinya negara, seperti Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan rasa solidaritas terhadap sesama warga negara.

Parenting kebangsaan berperan dalam membentuk pola pikir dan karakter anak yang kritis serta peduli terhadap isu-isu nasional. Dengan didikan yang berbasis pada nilai-nilai kebangsaan, anak-anak akan lebih siap untuk berpartisipasi aktif dalam inisiatif seperti "Suara Anak Indonesia." Orang tua yang menerapkan prinsip-prinsip kebangsaan dalam pengasuhan mereka akan mendorong anak-anak untuk berani menyuarakan pendapat mereka tentang isu-isu yang mereka anggap penting bagi masa depan bangsa.

Misalnya, melalui pendidikan keluarga yang menekankan pentingnya Pancasila, anak-anak diajarkan untuk memahami makna dari persatuan dan keadilan sosial. Ini tidak hanya meningkatkan kesadaran mereka tentang pentingnya kebangsaan tetapi juga mempersiapkan mereka untuk berperan sebagai pemimpin masa depan yang dapat menyuarakan aspirasi masyarakat dengan integritas.

Parenting kebangsaan juga memastikan bahwa partisipasi anak-anak dalam isu kebangsaan didukung oleh pemahaman yang kuat tentang identitas nasional mereka. Ketika anak-anak dilibatkan dalam diskusi tentang kebangsaan di rumah, mereka lebih mungkin untuk terlibat dalam forum-forum publik yang memungkinkan mereka menyuarakan pandangan mereka, seperti dalam program "Suara Anak Indonesia." Orang tua berperan dalam menyediakan ruang untuk diskusi ini, di mana anak-anak dapat mengekspresikan pandangan mereka tentang bagaimana mereka melihat bangsa ini dan apa yang mereka harapkan dari masa depan Indonesia.

Dalam keluarga orang tua bisa menerapkan program Suara Anak Indonesia kepada anak usia dini dengan:

  1. Pengenalan nilai-nilai Pancasila melalui Cerita dan Permainan
  2. Pembentukan Rasa Cinta Tanah Air melalui aktivitas harian
  3. Pengasuhhan digital dengan nilai kebangsaan
  4. Mendorong anak untuk berpartisipasi dalam kegiatan kebangsaan
  5. Komunikasi yang mengedukasi tentang toleransi dan kebhinekaan
Pada tahun 2024 KemenPPPA menjadikan "Suara Anak Indonesia" sebagai fokus utama dalam peringatan HAN. Menteri KemenPPPA Bintang Puspayoga menyebutkan "Suara Anak Indonesia" ini disusun oleh perwakilan anak Indonesia yang tergabung dalam Forum Anak Nasional, termasuk anak yang memerlukan perlindungan khusus mulai tingkat desa hingga tingkat nasional. Berikut ringkasan suara anak Indonesia tahun 2024:
  1. Memohon pemerintah dan masyarakat pemenuhan hak pencatatan sipil anak. Mulai dari pencatatan KIA, akta kelahiran, Kartu Keluarga, dan administrasi kependudukan lainnya
  2. Memohon pemerintah dan masyarakat untuk pencegahan perkawinan pada usia anak. Dan pembentukan satgas pencegahan perkawinan usia anak mulai dari bawah
  3. Keterkaitannya dengan penggunaan NAPZA, perokok aktif dan perokok pasif maka memohon agar dioptimalkan regulasi yang diadopsi dari Prinsip Hak Anak dan prinsip bisnis, yakni kerangka kerja global yang mengatur bagaimana bisnis mempengaruhi dan mematuhi hak anak dalam operasi mereka, seperti perusahaan, produk, dan lain-lain.
  4. Memohon pemerataan pendidikan di seluruh wilayah Indonesia
  5. Memohon agar  undang-undang tentang kekerasan dan eksploitasi pada anak agar terus disosialisasikan dan diimplementasikan guna menekan permasalahan kekerasan dan eksploitasi pada anak. 

Suara Anak dan partisipasi aktif anak dalam isu kebangsaan tidak dapat terlepas dari peran penting parenting kebangsaan. Dengan menanamkan nilai-nilai kebangsaan sejak dini, orang tua membantu membentuk generasi muda yang tidak hanya siap untuk menghadapi tantangan masa depan tetapi juga memiliki kesadaran tinggi akan identitas nasional mereka. Parenting kebangsaan yang kuat akan menghasilkan anak-anak yang siap menyuarakan pendapat mereka demi kemajuan bangsa, menjadikan mereka agen perubahan yang berkontribusi nyata dalam pembangunan Indonesia.