Bermain merupakan aktivitas universal yang memiliki peran penting dalam perkembangan individu, baik secara fisik, kognitif, sosial, maupun emosional. Dalam kajian teori, bermain telah dibahas dalam berbagai perspektif, baik klasik maupun kontemporer. Artikel ini mengulas teori bermain dari kedua perspektif tersebut, termasuk teori dari pandangan Islam yang menyoroti peran bermain dalam pendidikan.
- Teori Surplus Energi
Teori
ini dikemukakan oleh Friedrich Schiller dan Herbert Spencer. Bermain dianggap
sebagai cara untuk melepaskan energi berlebih yang tidak terpakai dalam
aktivitas sehari-hari. Energi yang tersisa digunakan anak untuk kegiatan
bermain yang bersifat spontan dan tidak berorientasi pada tujuan tertentu.
2. Teori
Rekreasi
Dikemukakan oleh Moritz
Lazarus, teori ini berargumen bahwa bermain adalah sarana untuk mengembalikan
energi yang telah terkuras dalam aktivitas sehari-hari. Bermain dianggap
sebagai bentuk relaksasi dan pemulihan.
3. Teori
Rekapitulasi
G.
Stanley Hall mengembangkan teori ini, yang menyatakan bahwa bermain adalah
pengulangan perilaku nenek moyang manusia. Aktivitas bermain mencerminkan
tahapan evolusi manusia yang telah dilalui.
4. Teori
Sublimasi
Menurut
Sigmund Freud, bermain adalah cara bagi anak untuk menyalurkan dorongan atau
keinginan yang tidak dapat mereka wujudkan secara langsung. Bermain menjadi
mekanisme sublimasi dari keinginan bawah sadar.
5. Teori
Reinkarnasi
Teori ini memandang bermain sebagai cara
individu untuk menghidupkan kembali pengalaman hidup yang sebelumnya atau dari
kehidupan lampau, meskipun teori ini lebih bersifat filosofis daripada ilmiah.
6. Teori
Praktis
Teori ini berfokus pada aspek utilitarian bermain, di
mana bermain dianggap sebagai latihan untuk mempersiapkan keterampilan yang
dibutuhkan dalam kehidupan dewasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar