Senin, 25 November 2024

Teori Bermain Klasik

 

Anak bermain bersama. Ilustrasi foto:  Antaranews.com

Bermain merupakan aktivitas universal yang memiliki peran penting dalam perkembangan individu, baik secara fisik, kognitif, sosial, maupun emosional. Dalam kajian teori, bermain telah dibahas dalam berbagai perspektif, baik klasik maupun kontemporer. Artikel ini mengulas teori bermain dari kedua perspektif tersebut, termasuk teori dari pandangan Islam yang menyoroti peran bermain dalam pendidikan.

  1. Teori Surplus Energi

Teori ini dikemukakan oleh Friedrich Schiller dan Herbert Spencer. Bermain dianggap sebagai cara untuk melepaskan energi berlebih yang tidak terpakai dalam aktivitas sehari-hari. Energi yang tersisa digunakan anak untuk kegiatan bermain yang bersifat spontan dan tidak berorientasi pada tujuan tertentu.

2.      Teori Rekreasi

Dikemukakan oleh Moritz Lazarus, teori ini berargumen bahwa bermain adalah sarana untuk mengembalikan energi yang telah terkuras dalam aktivitas sehari-hari. Bermain dianggap sebagai bentuk relaksasi dan pemulihan.

3.      Teori Rekapitulasi

G. Stanley Hall mengembangkan teori ini, yang menyatakan bahwa bermain adalah pengulangan perilaku nenek moyang manusia. Aktivitas bermain mencerminkan tahapan evolusi manusia yang telah dilalui.

4.      Teori Sublimasi

Menurut Sigmund Freud, bermain adalah cara bagi anak untuk menyalurkan dorongan atau keinginan yang tidak dapat mereka wujudkan secara langsung. Bermain menjadi mekanisme sublimasi dari keinginan bawah sadar.

5.      Teori Reinkarnasi 

   Teori ini memandang bermain sebagai cara individu untuk menghidupkan kembali pengalaman hidup yang sebelumnya atau dari kehidupan lampau, meskipun teori ini lebih bersifat filosofis daripada ilmiah.

6.      Teori Praktis

Teori ini berfokus pada aspek utilitarian bermain, di mana bermain dianggap sebagai latihan untuk mempersiapkan keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan dewasa.

 


Tidak ada komentar: