- Teori Psikoanalisis (Sigmund Freud)
Freud berpendapat bahwa bermain adalah
mekanisme anak untuk mengatasi konflik emosional dan kecemasan. Bermain
memungkinkan anak untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran bawah sadar secara
simbolis.
- . Teori
Kognitif (Jean Piaget)
Piaget menyoroti peran bermain dalam
perkembangan kognitif. Ia membagi bermain menjadi tiga tahap: bermain
sensorimotor, bermain simbolik, dan bermain dengan aturan. Bermain dianggap
sebagai sarana eksplorasi dan konstruksi pengetahuan.
- . Teori
Kognitif Sosial (Lev Vygotsky)
Vygotsky
menekankan pentingnya interaksi sosial dalam bermain. Bermain, terutama bermain
peran, membantu anak mengembangkan kemampuan bahasa, berpikir logis, dan
pengaturan diri. Konsep zona perkembangan proksimal (ZPD) juga relevan dalam
konteks bermain.
- . Teori
Kognitif (Jerome Bruner)*
Bruner
menganggap bermain sebagai sarana pembelajaran yang mendukung anak untuk
mengembangkan kreativitas dan memecahkan masalah. Bermain juga memungkinkan
anak untuk mencoba berbagai skenario tanpa risiko nyata.
- . Teori
Singer dan Bateson*
Singer mengemukakan bahwa bermain memiliki dimensi imajinatif yang mendukung perkembangan emosi dan kreativitas anak. Bateson menambahkan bahwa bermain adalah bentuk komunikasi yang membantu anak memahami makna simbolik.
- Perspektif Islam (Imam Ghazali)*
Imam Ghazali menekankan bahwa bermain adalah bagian penting dari pendidikan anak, khususnya pada tujuh tahun pertama kehidupan. Bermain harus diarahkan untuk mendukung perkembangan moral dan spiritual anak. Ia juga menggarisbawahi pentingnya moderasi antara bermain dan beragama
- Teori Pembagian Tiga Jenjang Pendidikan
Dalam
perspektif Islam, pembagian pendidikan anak berdasarkan fase tujuh tahun
pertama (fase bermain), tujuh tahun kedua (fase pembelajaran serius), dan tujuh
tahun ketiga (fase tanggung jawab) memberikan pandangan yang sistematis tentang
peran bermain. Pada tujuh tahun pertama, bermain dianggap sebagai medium
pembelajaran utama.